[MOVIE] A Man Called Ahok – Kisah Perjuangan Putra Belitung *spoiler alert*

5 hari setelah film A Man Called Ahok rilis di bioskop2 Indonesia, gw baru bisa nonton di hari Selasa kemarin. Terbentur dengan lokasi bioskop dan tempat duduk yang gw incer, makanya gw tunda dulu nonton di hari pertama main. Semua bioskop penuh! Tapi terus terang, gw gak terlalu napsu buat nonton awalnya. Bukan! Bukan karena gw gak suka Ahok. Oh wow, gw justru kagum banget sama sosok seorang Ahok. Gara2 Ahok, Jakarta pernah jadi yang terbaik di mata gw. Sebelum Ahok kerja di Jakarta, gw gak kenal siapa beliau. Sepak terjang Ahok bikin Jakarta lebih baik dari sebelum2nya. Terus, apa sih sebetulnya alasan gw gak beli tiket pertama kali? Gw ragu Daniel Mananta bisa mewakili sosok Ahok. Monmaap ya Kak Daniel. Secara gw gak pernah nonton Daniel akting. Tapi setelah banyak teman yang bilang filmnya bagus, okelah gw coba nonton deh. Oya film diadaptasti dari buku dengan judul yang sama, karangan Rudi Valinka, dan disutradarai oleh Putrama Tuta. Yuk mulai nonton!

Film dimulai dengan suara Ahok saat menghimbau orang2 agar tidak demo di sekitar lokasi Ahok ditahan. Trenyuh rasanya mendengar betapa bijaksananya Ahok, walau sudah dituduh menistakan agama, sudah divonis hukuman, tetap menjaga Jakarta. Tapi film ini bukan tentang ketidakadilan yang terjadi pada Ahok. Ini film tentang hidup Ahok dari kecil dan dewasa, sebelum menjabat di Jakarta, sebelum menjadikan Jakarta lebih indah. Tentang masa pembentukan karakter Ahok, putra asli Belitung. Ahok (Eric Febrian & Daniel Mananta) adalah anak pertama dari 5 bersaudara. Anak dari Tjung Kim Nam (Denny Sumargo & Chew Kin Wah) dan Buniarti Ningsih (Eriska Rein & Sita Nursanti). Tersempil adegan2 akrab dan lucu, bahkan ada adegan yang memilukan juga dengan 4 saudara kandung Ahok *gw baru tau kalo Ahok punya 4 saudara loh* yaitu Yuyu (Samuel Wongso), Fifi (Jill Gladys), Harry (Albert Halim) dan Frans. Ada juga Koh Asun (Ferry Salim) yang sepertinya sahabat dari ayahnya Ahok, dan Bapak Rudi (Donny Damara) pejabat korup yang menyebalkan. Tapi buat gw, walaupun judulnya A Man Called Ahok, kekuatan film ini ada di Tauke Kin Nam.

Seperti biasa, gak banyak dari sinopsis yang bakal gw bahas. Di dalam film ini Ahok digambarkan sebagai anak yang nurut dengan orang tua. Tapi ia pun cukup menyimak, saat orang tuanya “bertengkar” gara2 sang ibu khawatir dengan sikap dermawan sang ayah. Terlalu baik ke semua orang. Tapi Tauke Kin Nam mengingatkan Cik Bun, “Rejeki itu sudah ada yang ngatur.” Dan sedikit demi sedikit Cik Bun pun sadar bahwa apa yang dikatakan Tauke itu benar. Walau Tauke bersikap lembut terhadap orang sekitar yang membutuhkan, beliau bisa bersikap keras menghadapi bapak pejabat korup yang selalu mencoba menjatuhkan bisnisnya. Dan beliau sangat tegas terhadap anak2nya. Katanya, “kalau berburu itu harus bersama2 saudara kandung. kalo sama orang lain saat kamu kesulitan, mereka akan lari meninggalkanmu. tapi saudara kandung gak akan meninggalkanmu. karena kalau dia meninggalkan, dia akan kehilangan saudara kandung.” Kekuatan kata2 itu menjadikan mereka kompak dan akur. Tauke juga kepingin anaknya jadi penguasa. Karena, “Orang miskin kalah sama orang kaya. Orang kaya kalah sama penguasa.” Petuah yang memberikan semangat ke semua anaknya.

Akting Denny Sumargo sangat fantastis! Gila! Akting sebagai orang kaya yang selalu mau membantu warga sekitar, akting sebagai pengusaha yang harus membantai pejabat korup, akting sebagai suami yang harus memberikan kenyamanan ke istri bahwa hidup mereka pasti akan selalu cukup, dan akting sebagai ayah yang harus mendidik anak2nya hingga akhir hidupnya. Akting Chew Kin Wah pun gak kalah hebat. Adegan di meja makan saat mengungkapkan kebanggaannya sebagai seorang ayah, bikin air mata membanjir. Mungkin ada sebagian adegan yang keliatannya selalu sinis ke Ahok, tapi sepertinya itu yang bikin Ahok makin tangguh memenuhi keinginan sang ayah. Akting Eriska Rein dan Sita Nursanti agak mirip. Kepribadian seorang istri dan ibu yang gak banyak bicara, cenderung pasrah tapi akhirnya malah mengimbangi karakter sang ayah yang lumayan penuh emosi. Ahok kecil terlihat pendiam dan rajin menyimak, tapi berhati mulia. Ternyata sudah dari kecil ya Pak Ahok punya hati mulia. Gak heran kalau beliau akhirnya jadi pemimpin yang baik. Akting Daniel Mananta bikin gw kebayang Pak Ahok beneran LOL. Gaya bicara dan cara berjalan pun cukup baik menyerupai Pak Ahok. Gw tau karena pernah ketemu langsung dengan Pak Ahok. *bangga bangettttt*

Film ini mengajarkan kita bahwa didikan orang tua memang penting dalam kehidupan seorang manusia. Apalagi jika bisa memberikan contoh yang baik. Seperti Tauke Nam dan Cik Bun menjadi teladan anak2nya. Ayah yang dermawan terhadap sesama, ibu yang setia menemani sang ayah dalam segala situasi. Orang tua yang menginginkan semua yang terbaik buat anak2nya. Dan mereka lah yang menjadikan putra Belitung itu: A Man Called Ahok.

Semoga berkenan.

Advertisements